23 February 2008

personil dream theater

Anggota sekarang

James Labrie
merupakan Vokalis Dream Theater yang masuk dan bergabung dengan Dream Theater pada tahun 1992, menggantikan Charlie Dominici. Kevin James LaBrie lahir di Penetanguishene, Sebuah kota kecil di Kanada pada tanggal 5 Mei 1963. sejak kecil, James saat berumur 3 tahun, dia sering mendengarkan radio dan menyayikan lagu apapun yang terdengar dari radio tersebut. Diinspirasikan oleh ayahnya, dia kemudian mulai bernyanyi dan bermain drum pada awalnya saat berusia 5 tahun. dan pada saat berusia 10 tahun, dia berkuartet dengan ayahnnya dan paman juga adiknya bernyanyi di barber shop. sebelum muda, dia sudah menyukai musik rock. Saat berusia 14 tahun, dia telah bermain di berbagai band sebagai vokal dan drum. Tetapi, James lebih memilih bernyanyi ketimbang bermain drum. saat dia berusia 18 tahun, dia memutuskan pindah ke Kanada. Saat berusia 21 tahun, James berlatih vokal pada Rosemary Patricia Burns. Setelah banyak bergabung dengan beberapa band di Kanada. James kemudian menjadi vokalis pada band Winter's Rose, dimana juga bergabung dengan Atlantic Records, Label Dream Theater saat itu. lalu Pierre Paradis yang mengatur band Voi Vod, menawarkan solo project pada James di Aquarius record. kemudian dia memberitahu James bahwa ada nama band New York bernama Dream Theater melakukan audisi untuk mencari vokalis, kemudian James mengikutinnya dan diterima, itulah sejarah LaBrie bergabung dengan Dream Theater pada 1992, dimana album pertama LaBrie bersama Dream theater ialah Images and Words. Sampai saat ini, Labrie telah banyak menciptakan lagu untuk Dream Theater seperti Anna Lee(Falling Into Infinity), Vacant(Train Of Thought), Blind Faith(six degree of Inner Turbulance), Sacrified Son(Octavarium). Dan dia tetap tinggal di Toronto,Kanada bersama istrinya Karen, dan kedua anaknya Chloe dan Chance Abraham LaBrie.

John Ro Myung
adalah seorang bassist dan anggota pembentuk grup progressive metal Dream Theater. Dia merupakan satu-satunya anggota Dream Theater yang memiliki keturunan Asia yaitu korea Lahir pada tanggal 24 Januari 1967 di Chicago dan besar di Long Island, New York.Ibunya sering mendengarkan music classic saat dia masih kecil, dan saat Myung muda berusia 5 tahun, dia mengambil kursus biola. Kemudian saat John Myung berusia 15 tahun, tetanggaNya mendekatinnya untuk memainkan Bass pada band tetangganya tersebut, kemudian Myung berasumsi bahwa Bass mempunyai 4 senar sama dengan biola, jadi dia dapat mempelajarinnya dengan cepat dan sejak saat itu dia beralih ke Bass guitar dan sejak saat itu dia tak pernah lagi memainkan biola. Inspirator yang mempengaruhi John Myung seperti Chris Squire, Steve Harris dan Geddy Lee, juga band seperti Rush, Yes dan Iron Maiden. Juga dia sering mendengarkan band seperti jane's addiction, Red Hot Chilli Peppers sebaik musik classic dan blues. John merupakan satu-satunnya anggota Dream Theater yang tetap tinggal di Long Island bersama istrinnya Lisa dan 2 anaknya, Brandon dan Christian Myung. Lagu yang pernah diciptakannya untuk Dream Theater ialah Learning To Live pada album Images and Words dan Trial of Tears pada album Falling Into Infinity. dia mempunyai project lain selain dream theater yaitu Jelly jam.

John Petrucci
(lahir pada tanggal 12 Juli, 1967), adalah gitaris Amerika yang dikenal sebagai anggota pembentuk grup progresif metal Dream Theater. Dia juga seorang produser (bersama teman satu bandnya Mike Portnoy) dari semua album Dream Theater sejak rilis album Scenes From A Memory, pada tahun 1999. Petrucci besar di Long Island, tepatnya Kings park dimana Petrucci bersama John Myung dan Kevin Moore sekolah di tempat yang sama. Petrucci bermain gitar pertama kali pada saat berumur 8 tahun. Dan mulai bermain dengan sebuah band pada umur 12 tahun. Band dan gitaris yang mempengaruhi permainan gitarnya adalah Yngwie Malmsteen, Randy Rhoads, Iron Maiden, Stevie Ray Vaughn, Yes, Rush dsb. Karena saat itu sedang berkembang irama metal dan trash, Petrucci menambahkan pengaruhnya pada musik Metallica dan Queensryche.

Mike Portnoy
(lahir 20 April 1967) adalah drummer kelompok musik Dream Theater. Ia juga memiliki beberapa proyek sampingan seperti TransAtlantic, O.S.I dan Liquid Tension Experiment Jordan Rudess (lahir dengan nama Jordan Rudes pada 4 November 1956) adalah pemain keyboard band progresif rock Dream Theater Mantan anggota

Charlie Dominici
adalah mantan vokalis grup musik Dream Theater. Ia masuk pada saat Dream Theater mencoba tampil ke tingkat internasional, bersama-sama dengan Kevin Moore Charlie Dominici keluar setelah terlibat dalam album When Dream and Day Unite, album internasional pertama dari Dream Theater. Setelah itu, ia keluar dari grup karena usianya yang relatif lebih tua daripada personal lainnya dan karena ia merasa berbeda dalam konsep bermusik. Di Dream Theater ia digantikan oleh James LaBrieKevin Moore adalah mantan pemain keyboard dari Dream Theater. Ia bergabung dengan grup musik ini sebelum menjadi populer. Sebelumnya, Dream Theater didirikan dengan nama Majesty. Untuk keperluan popularitas mereka mencari seorang pemain keyboard dari sekolah musik. Pada saat itulah Kevin Moore masuk. Grup ini lalu berganti nama menjadi Dream Theater. Di album Images and Words Kevin Moore masih turut serta. Ia keluar dari Dream Theater setelah album ini. Derek SherinianChris Collins

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 23.2.08

dream theater


Dream Theater adalah salah satu grup progressive metal paling terkemuka di dunia saat ini. Didirikan oleh Mike Portnoy, John Petrucci dan John Myung, mereka telah merilis delapan album studio, empat rekaman live dan satu album pendek (EP). Album pertama mereka, When Dream And Day Unite direkam dengan Charlie Dominici sebagai vokalis dan Kevin Moore sebagai pemain keyboards. Dominici berusia jauh lebih tua daripada anggota lainnya dan ingin memainkan musik yang lain, sehingga ia kemudian keluar dari grup. Mereka kemudian mencari pengganti yang ideal selama 2 tahun sampai akhirnya bertemu dengan James LaBrie, vokalis dari Kanada melalui audisi.

Bersama LaBrie mereka merekam Images And Words yang melambungkan nama mereka ke jajaran internasional dengan hit "Pull Me Under" dan "Another Day". Awake adalah album terakhir mereka dengan Moore yang kemudian digantikan oleh Derek Sherinian untuk album Falling Into Infinity. Pada akhirnya Sherinian juga digantikan oleh Jordan Rudess dan formasi ini masih bertahan sampai hari ini. Mereka telah meluncurkan album konsep Metropolis 2: Scenes From A Memory dan album ganda Six Degrees Of Inner Turbulence. Pada tahun 2003 mereka memutuskan untuk merekam album non-konsep Train Of Thought yang sangat dipengaruhi oleh grup thrash metal seperti Metallica.

Album terbaru mereka yang berjudul Octavarium dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 2005 dan selain merupakan album studio kedelapan juga mengandung delapan lagu.

Setelah Dream Theater meluncurkan album Live mereka dalam memperingati 20 tahun Dream Theater terbentuk yang berjudul Score yang direkam pada tanggal 1 April 2006 di Radio City Music Hall,US. Mereka kembali bersiap meluncurkan album ke sembilan mereka dengan membawa bendera label record baru yaitu RoadRunner Records, mereka telah merampungkan album Systematic Chaos yang berisi 8 lagu dan akan diluncurkan pada tanggal 5 Juni 2007 di US.

Sejarah

Dream Theater dibentuk pada bulan September 1985, ketika gitaris John Petrucci dan bassis John Myung memutuskan untuk membentuk sebuah band untuk mengisi waktu luang mereka ketika bersekolah di Berklee College of Music di Boston. Mereka lalu bertemu seorang pemain drum, Mike Portnoy, di salah satu ruang latihan di Berklee, dan setelah dua hari negosiasi, mereka berhasil mengajak Mike Portnoy untuk bergabung. Setelah itu, mereka bertiga ingin mengisi dua tempat kosong di band tersebut, dan Petrucci bertanya kepada teman band, Kevin Moore, untuk menjadi pemain keyboard. Dia setuju, dan ketika Chris Collins diajak untuk menjadi vokalis, band tersebut sudah komplit.

Dengan lima anggota, mereka memutuskan untuk menamai band tersebut dengan nama Majesty. Menurut dokumentasi DVD Score, mereka berlima sedang mengantri tiket untuk konser Rush di Berklee Performance Center ketika mendengarkan Rush dengan boom box. Portnoy lalu berkata bahwa akhiran dari lagu tersebut (Bastille Day) terdengar sangat "majestic". Pada saat itulah mereka memutuskan Majesty adalah nama yang bagus untuk sebuah band, dan tetap bagus sampai sekarang.

Pada saat - saat tersebut, Portnoy, Petrucci dan Myung masih berkutat dengan kuliah mereka, juga dengan kerja paruh waktu dan mengajar. Jadwal mereka menjadi kiat ketat sehingga mereka harus memutuskan antara mengejar karir di bidang musik atau mengakhiri band Majesty. Namun akhirnya Majesty menang dan mereka bertiga keluar dari Berklee untuk berkonsentrasi di karir musik. Petrucci mengomentari tentang hal ini di dokumentasi DVD Score, berkata bahwa saat tersebut sangat susah untuk meminta kepada orang tuanya untuk pergi ke sekolah musik. Dan lebih susah lagi untuk menyakinkan orang tuanya agar ia boleh keluar dari sekolah.

Moore juga akhirnya keluar dari sekolahnya, SUNY Fredonia, untuk berkonsentrasi dengan band tersebut.

Karakteristik penulisan lagu

Beberapa teknik penulisan lagu yang unik telah dilakukan oleh Dream Theater, yang kebanyakan terjadi di masa - masa sekarang, ketika mereka bisa bereksperimen dengan label rekaman mereka sendiri.

Dimulai dengan Train of Thought, Dream Theater sudah memulai memasukkan elemen - elemen kecil dan tersembunyi di musik mereka, dan memuat elemen tersebut kepada peminat yang lebih fanatik. Karakteristik yang paling terkenal (yang biasa disebut "nugget") tersembunyi di "In the Name of God", yang merupakan sandi morse dari "eat my ass and balls" (makan pantatku dan penisku), yang merupakan kata - kata terkenal dari Mike Portnoy. Sejak saat itu, banyak peminat - peminat Dream Theater mulai berusaha menemukan hal - hal kecil yang biasanya tidak menarik bagi peminat biasa.

Beberapa dari teknik mereka yang terkenal termasuk:

Diskografi

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 23.2.08

THE SPIRIT CARRIES ON (CHORDS)

A:
D D/F#
Where did we come from? Why are we here?
G D D/C#
Where do we go when we die?
Bm Bm/A
What lies beyond? What lay before?
E/G# A4 A
Is anything certain in life?

A:

They say life is too short the here and the now,
and you're only given one shot.
But could there be more? Have I lived before?
Or could this be all that we've got?

B:
Chorus:

G A D D/C# Bm
If I die tomorrow, I'd be all right because I believe
G Em D
that after we're gone, the spirit carries on

(interlude)

D D9 D4 Em .
D D9 D4 A4 (drums)

A:

I used to be frightened of dying.
I used to think death was the end.
But that was before, I'm not scared anymore.
I know that my soul will transcend.

A:

I may never find all the answers,
I may never understand why.
I may never prove what I know to be true,
but I know that I still have to try.

B:

CHORUS:
If I died tomorrow I'd be all right because I believe
G Em D D7
that after we're gone, the spirit carries on

C:
Em D#
Move on, be brave! Don't weep at my grave!
D E
because I'm no longer here.
G Em Bm
But please never let your memory of me disappear.

Same chords

A:

Safe in the light that surrounds me.
Free of the fear and the pain.
The question in mind has helped me to find
the meaning in my life again.

A:

Victoria's real! I finally feel
at peace with the girl in my dreams.
And now that I'm here, it's perfectly clear
I'll find out what all of this means.

B:

Chorus:

If I died tomorrow I'd be all right because I believe
G Em D
that after we're gone, the spirit carries on

ENDING

D G Em
D G A
D G Em
D G A D

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 23.2.08

Spirit Carries On, Telaah Psikologi Kematian dalam Perspektif Heideggerian

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?


Petikan lirik lagu "Spirit Carries On" dari Dream Theatre ini menginspirasi penulis. Mengajak untuk mempertanyakan dari mana kita berasal, di mana kita saat ini, akan ke mana setelah mati. Apa yang kita tinggalkan sebelum mati dan adakah kepastian dalam kehidupan. Lagu itu makin menarik ketika penulis menghubungkan dengan berita mengenai sekte yang menunggu datangnya kematian, di Pondok Nabi, Bale Endah Bandung3 atau berbagai peristiwa bom bunuh diri bernuansa fanatisme agama.

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend

Lagu itu mengalun lagi. Menggambarkan ketakutan yang menghinggapi seseorang ketika menghadapi kematian. Ketakutan yang hilang, ketika orang itu mengetahui bahwa jiwanya akan terangkat menuju suatu tempat.

Sejarah mencatat bahwa hampir semua orang menghadapi kematian dengan rasa takut

As previously noted, primitive man's reaction to death was one of fear. In this enlightened age, man still reacts to death with fear. Death is still an unknown. No one obviously, has ever died and returned to tell us what death is really like. Man naturally fears what he does not understand and can not control. The so-called "near-death" experience is still not a death experience. We can never know exactly what death is, so we can never fully understand it. Therefore we can never stop totally from fearing it.

Much of our response to death is avoidance. Death is not a pleasant topic of conversation. When death must be talked about, it is usually done in academic terms. Talking about death on a personal level creates discomfort. It is much easier to talk about death in terms of, "People die," rather than in terms of, "Someday I will die.".4

Semakin menarik, ketika penulis mencoba memikirkan apa yang ada di benak penganut sekte kematian tersebut. Mereka tampak begitu yakin dalam menghadapi kematian, tidak tergambar ketakutan. Bahkan memiliki keyakinan untuk masuk surga. Suatu kondisi yang setara dengan ketika Imam Samudra, Amrozy, pelaku bom bunuh diri di Turki, dan orang-orang yang meledakkan beberapa tempat dengan mengambil resiko untuk berhadapan dengan kematian.

Ontologi Kematian

Surga [dan neraka] adalah simbol arkais yang menggambarkan suatu "tanah terjanji" bagi orang-orang setelah melalui kematian. Secara hermeneutis, orang-orang Sekte pimpinan Mangapin Sibuea dan para pelaku-pelaku pengeboman, yang keduanya mengatasnamakan agama untuk tindakan yang dilakukan, mengharapkan tanah terjanji tersebut setelah kematian. Namun pertanyaan muncul, darimana mereka bisa begitu yakin bahwa mereka akan memasuki tanah terjanji ?

Kita mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa mereka melakukan itu semua. Sebuah tindakan yang tidak akan pernah masuk dalam nalar logis. Namun sebenarnya bukan itu yang penting. Pemaknaan mengenai kematian justru menjadi hal yang menarik. Selama ini, sebagian dari kita menyadari kematian, tanpa memiliki konsep jelas dalam menyikapi. Yang ketakutan, bahkan memilih untuk tidak memikirkannya. Ini membuat seseorang menjalani kehidupan dengan hampa tanpa pernah mempertanyakan apa makna hidup, dari mana dia berasal, mengapa dia hidup dengan keberadaan sekarang, apa yang akan terjadi jika dia mati, dan apa makna kematian.

Hidup kita, layaknya melihat matahari terbit setiap hari dan tidak pernah mempersoalkan pemaknaannya dalam kehidupan kita. Kerapkali, kita menerima begitu saja apa yang kita lihat dan dikatakan orang. Edmund Husserl menyebut sikap taken for granted ini sebagai nat�rliche Einstellung (Sikap alamiah), yaitu kepercayaan naif bahwa dunia luar itu ada begitu saja.

William Dilthey menjelaskan bahwa hidup penuh dengan makna5. Bila kita mencoba menjelaskan tentang alam dan kematian, saat itu pula kita memahami kehidupan batin. Apa yang kita pahami mengenai alam dan kematian bukan merupakan pemahaman sebenarnya, karena alam bukan buatan manusia. Pemahaman mengenai alam adalah suatu peng�alam�an peristiwa. Menjadikan sesuatu yang sebelumnya eksternal menjadi internal, menyatu dengan batin.

Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan sebagai "pengalaman", yaitu erfahrung dan erlebnis. Kata erfahrung biasanya diartikan sebagai "pengalaman" seperti pemahaman kita pada umumnya. Sedangkan erlebnis adalah kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti "mengalami". Erfahrung adalah term umum, sedangkan erlebnis adalah term khusus yang dipergunakan untuk mengkonotasikan pengalaman batin atau "pengalaman yang hidup"6.

Berkaitan dengan psikologi, kita melihat bahwa tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. Bisa jadi, seseorang menjalani kehidupan tanpa memiliki pengalaman yang hidup selain pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak bermakna apa-apa (erfahrung).

Semboyan Husserl, Zur�ck zu den Sachen selbst (kembalilah ke hal-hal itu sendiri) dapat kita mengerti sebagai upaya untuk mendekati fenomena kehidupan semurni mungkin dan dunia-kehidupan seotentik mungkin. Fenomena kematian, dalam perkembangannya tidak pernah tampak apa adanya karena sudah ditafsirkan oleh para "ahli", misalnya diteropong sebagai bentuk fundamentalisme, liberalisme, humanisme, dan isme-isme lainnya. Tetapi apakah fenomena kematian itu pada dirinya?

Episteme Kematian

Fenomena kematian adalah suatu pintu menuju fenomena lain. Untuk membiarkan kematian "menampakkan diri" pada dirinya sendiri, kita tidak bisa menafsirkan penafsiran-penafsiran siapapun begitu saja, melainkan membuka diri, yaitu membiarkan kematian terlihat. Langkah tepat untuk memahami kematian adalah membuka diri, bukan sekedar menganalisis. Bayangkanlah kita sebagai orang yang melihat pertama kali fenomena kematian, pertama-tama akan heran, mengapa ada kematian? Keheranan yang akan menempatkan kita sebagai �pemula� dalam melihat kematian. Seperti tergambar dalam lanjutan lirik lagu Spirit Carries On berikut :

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again

Ya�kita mungkin tidak pernah memperoleh jawaban atau pemahaman eksak mengenai ontologi kematian. Tetapi, pencarian jawaban itulah yang membawa kita pada pemaknaan hidup, ketimbang membiarkan kematian dan taken-for granted terhadap semua pemahaman mengenai kematian.

The being that exists is man. Man alone exists. Rocks are, but they do not exist. Trees are, but they do not exist. Horses are, but they do not exist. Angels are, but they do not exist. God is, but he does not exist. The proposition "man alone exists" does not mean by any means that man alone is7

Satu-satunya Being atau �Ada� adalah manusia. Dengan mempertanyakan kembali �Ada� kita dalam kehidupan, maka kita tidak sekedar menjalankan hidup. Tidak seperti �Ada� dari orangutan atau mobil yang tergeletak di garasi, yang tidak pernah mempertanyakan �ada�-nya. Orangutan ada begitu saja dan mungkin tidak pernah mengambil jarak terhadap �Ada�-nya, maka dia tidak pernah menanyakan �Ada�-nya. Yang bisa melakukan itu adalah Dasein8 .

Dasein adalah kata Jerman yang berarti �Ada-di-sana� Ada di mana? �Di-sana� !. di dalam dunia begitu saja, tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Seperti yang dipertanyakan dalam lirik lagu Spirit Carries On. Itulah yang disebut faktisitas (Faktizit�t), yaitu kenyataan bahwa kita ada di dunia ini bersifat niscaya. Kita tak pernah ditanya lebih dahulu mau atau tidak hidup di dunia ini. Kita �ada-begitu-saja�, kita �di-sana�, di dalam dunia. Heidegger menyebut ini sebagai �keterlemparan� (Geworfenheit). Dasein terlempar ke dunia ini9.

Dasein adalah keber-ada-an manusia, tidak seperti entitas lain. Dasein bukan suatu [kata]�benda�. Ada dua ciri yang mengkarakterisasi Dasein : 1) Dasein memiliki suatu pemahaman mengenai dirinya sendiri, dan 2) Dasein, adalah Keber�ada�an, suatu ada- dalam- dunia atau �ada-sebagai-suatu-ada�.10

Dasein adalah term yang menggambarkan keberadaaan alami manusia dan relasi esensial manusia pada keterbukaan akan �Ada�-nya. Term ini juga berkembang, kendati dalam pemikiran metafisik kerap dipertukarkan dengan eksistensi, aktualitas, realitas, dan objektivitas, dan meski dalam metafisik penggunaan istilah ini lebih jauh didukung oleh ekspresi yang umum (dalam bahasa Jerman) : "menschliches Dasein."11

Kita �ada-begitu-saja�, terlempar. Yang membedakan Dasein dari mengada-mengada lain, adalah bahwa Dasein menyadari keterlemparan ini, lalu berupaya memahaminya. Agama�meskipun secara holistis dan mendalam�hanyalah salah satu cara memahami keterlemparan, tetapi faktisitas tetap, yaitu bahwa kita �ada-begitu-saja�. Mengada-mengada yang lain juga �ada-begitu-saja�, tetapi tidak mempersoalkan fakta tentang �ada-begitu-saja� ini. Karena tidak mempunyai akses ke ada mereka. Mengada-mengada yang lain itu seolah tertutup pada dirinya sendiri. Dasein bisa menanyakan �Ada� karena memiliki hubungan dengan �Ada-nya, yakni terbuka terhadap �Ada�-nya. Hubungan dengan �Ada�-nya ini disebut eksistensi (Existenz)12.

Keterlemparan ini, juga terjadi ketika menghadapi kematian. Ketika, kita tak pernah �menjadwalkan� kapan kita lahir, maka kitapun tak pernah mengetahui kapan kita mati. Namun kebermaknaan hidup justru diperoleh di situ. Dalam ketidakpastian masa depan. Dengan ketidakpastian orang masih memiliki harapan. Harapan berarti terbukanya kemungkinan. Adanya kemungkinan membuat orang termotivasi untuk hidup. Di situlah orang dapat menatap ke depan dan terus memperbaiki diri sepanjang hidupnya. Kita terus meng-�ada� sepanjang kita hidup. Dasein memiliki peluang untuk terus memaknakan perjalanan kehidupan menuju kematian yang tidak dapat dipastikan kedatangannya.

�Ada� Dasein adalah suatu �menjadi� karena terus menerus mengada dan belum ada secara penuh. Dalam arti inilah Heidegger lalu menyebut bahwa Dasein adalah kemungkinan itu sendiri (Seink�nnen). �Ada� Dasein tak lain daripada sesuatu yang ia tentukan sendiri13.

Menyembul dan membenamkan diri dalam keseharian, menemukan �Ada�-nya dan raib di tengah anonimitas keseharian, itulah dinamika kehidupan Dasein sebagai �Ada-di-dalam-dunia�. Dalam peristiwa kehidupan manusia, selalu ada alunan rutinitas yang menghanyutkan; seperti ketika kita bangun tidur, makan pagi, berangkat kerja; makan siang, pulang kerja, makan malam, tidur. Tetapi ada kala di tengah arus rutinitas tersebut, kita seolah terhempas ke dalam diri kita sendiri; ketika kita tercenung cemas memikirkan hubungan cinta yang kandas karena perbedaan agama. Kekecewaan, cinta, pedih, dan ketakutan seolah membendung arus rutinitas. Demikian juga ketika seseorang mengalami kecemasan, karena situasi tertentu memaksanya sadar bahwa dirinya berhadapan dengan kematian. Di saat-saat itulah kita menyembul dari arus sungai rutinitas keseharian yang menghanyutkan kehidupan.

Baik menyembul maupun terbenam, tetap terjadi dalam arus sungai kehidupan keseharian. Dasein tak pernah keluar sepenuhnya dari keseharian. Dasein juga tidak berasal dari sesuatu yang di atas keseharian, melainkan senantiasa berada dalam derasnya arus keseharian. Bila kita amati, muncul skema berikut : manusia terlempar ke dunia ini, timbul dan terbenam dalam keseharian, dan akhirnya mati.


Being and Death

...Dasein constantly _is its not-yet as long as it is, it also already _is its end. The ending we have in view when we speak of death does not signify a being-at-an-end of Dasein, but rather a being toward the end of this being. Death is a way to be that Dasein takes over as soon as it is.14

Kematian adalah hal penting untuk kehidupan, dan merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri. Kematian adalah hal arkais dalam diri manusia, suatu fundamen dan totalitas terhadap �Ada�-nya di dunia ini, yang mencakup rentang sejak keterlemparan sampai kematiannya. Dasein menemukan otentisitasnya jika membuka diri terhadap �Ada�-nya dengan menghadapi kemungkinan kematiannya secara mendalam. Dasein menjadi inotentik ketika membiarkan dirinya larut dalam arus keseharian.

�Ada� manusia adalah suatu palung tanpa dasar, suatu Nicht (ketiadaan). Maksudnya, �Ada� manusia secara dasariah adalah �ketiadaan-diri-sendiri� (eine Nichtigkeit seiner Selbst). Keterlemparan dasein itulah yang menunjukkan bahwa �Ada� Dasein adalah suatu ketiadaan, karena Dasein tak berasal dari suatu yang diketahui dan menuju ke tujuan yang tak satupun ditetapkan sebelumnya15.

Tetapi, ketidaktahuan atau ketiadaan kepastian itulah yang menentukan �Ada�-nya, maka lompatan ke dalam hal tersebut menimbulkan kecemasan. Suatu kecemasan yang dapat menjadi mediasi untuk kontak dengan �Ada� yang menjadi sumber nilai-nilai, karena dalam kecemasan itu Dasein bergerak melalui lorong pemahaman akan pencapaian kemungkinan-kemungkinan16.

Dasein mencapai totalitas �Ada�-nya dalam kematian (Tod). Kematian adalah zenit totalitas �Ada� dasein, tetapi persis pada titik itu pula Dasein kehilangan �Ada�-nya�suatu nadir ontologis, karena Dasein berhenti sebagai Ada-di-dalam-dunia. Namun ada suatu ruang terhormat bagi dasein yang terhenti itu. Manusia yang mati �lebih� daripada seonggok daging, dan menjadi almarhum yang bermartabat. Kontak dengan �Ada�nya tidak berhenti. Bukan keabadian jiwa dalam pemahaman agama yang diacu di sini, melainkan pengalaman akan dunia-bersama yang masih membekas pada mereka yang ditinggalkan. Hubungan dengan yang mati seolah masih �bermukim� di dalam dunia-bersama itu, sehingga yang mati �lebih� daripada sekedar jenasah. Ciri �lebih� itu, katakanlah semacam sedimentasi memori hasil kebiasaan kontak makna dengannya selama ini17.

There is an important relationship between freedom and responsibility, between possibility and the integrity of one's own being, which becomes clear in Heidegger's discussion of the mood anxiety. In anxiety Dasein becomes aware of its facticity (that it is mortal) and its thrownness (that death is inevitable), for when Dasein reflects on what bothers it in anxiety the answer is "nothing". Existentially this "nothing" or "no-thingness" is the possibility of Dasein no longer having any possibilities. Anxiety individualizes, that is Dasein becomes aware of the fact that death is non-relational or that death, one's ownmost possibility, can not be shared. In realizing this possibility Dasein is called back from falling into the world of the "they" and is now freed to choose between authenticity and inauthenticity, interpreting itself in terms of its ownmost Self or interpreting itself in terms of its "they" self.18

Tak seorang pun dapat menjemput kematian untuk orang lain. Meski orang bisa mati demi ideologi tertentu seperti teroris yang melakukan bom bunuh diri sekte yang percaya bahwa di satu waktu dan tempat tertentu mereka akan bersama-sama naik ke surga; tetapi kematian adalah tetap kematian bagi dirinya sendiri, bukan mewakili kematian orang lain. Maka itu, kematian adalah momen paling otentik dan eksistensial bagi dasein.

Akhir yang dimaksud dengan kematian, bukanlah berakhirnya dasein, melainkan suatu Ada-menuju-akhir. Dengan kata lain, akhir itu sudah ada sejak permulaan. Kematian sudah menyongsong Dasein sejak keterlemparannya. Manusia adalah ada-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Artinya, karena menyongsong sejak awal sampai akhir, kematian juga merentang dalam keseharian kita. Kematian selalu, dan tidak sekali saja, menghampiri dasein. Begitu juga dengan kelahiran. Keduanya adalah hal yang eksis dalam kehidupan manusia.

Ada suatu cara sederhana untuk melihat kerangka pendekatan Heidegger dalam memahami kematian: Ketika kematian bukan sesuatu yang bisa menjadi bagian dari pengalaman (melalui perjalanan hidup), tidak akan pernah ada yang bisa kita bicarakan mengenai kematian itu sendiri. Apa yang penting bukan kematian (death) itu sendiri tetapi perjalanan menuju kematian (dying), karena esensi dari keberadaan hidup manusia adalah perjalanan menuju kematian19.

Kematian bukan [hanya] dalam pengertian sempit mengenai kematian fisik, melainkan kemungkinan untuk mati. Manusia pasti mati, tetapi tak tahu kapan dan bagaimana. Kecemasan akan kematian eksis dan suatu ketika menyembul dari arus keseharian. Kecemasan itu adalah kecemasan akan kemungkinannya sendiri. Namun sekali lagi, meski menyembul keluar, kematian tetap berada dalam genangan arus keseharian. Di sini akan muncul dua macam sikap terhadap kematian : sikap manusia yang inotentik, cenderung menenang-nenangkan diri dengan anggapan bahwa kematian pasti menimpa setiap orang; dan sikap dasein yang otentik membuka diri terhadap kemungkinan paling mungkin dari dirinya, yaitu kematiannya.

Manusia otentik sudah terbiasa dengan cemas dan kesendiriannya. Artinya, dalam keseharian pun ia tetap bening dengan diri20. Antisipasi adalah ciri manusia atau Dasein karena ia adalah ketersingkapan itu sendiri. Karena menyingkapkan dirinya sendiri, dia terbuka terhadap sesuatu yang ada di depan. Dia selalu menyongsong ke depan, mendahului diri, dalam arti manusia itu selalu merupakan gerak, gerak menjadi (Werden), yaitu tidak pernah selesai untuk berkembang. Selalu berkembang sampai mati21.

Dalam kejawen, kita mengenal pengertian umum yang serupa dengan apa yang dimaksud oleh Heidegger sebagai membuka diri terhadap kematian, yang diistilahkan dengan Sangkan Paraning Dumadi (Totalitas asal dan tujuan manusia: bahwa keberadaan manusia di dunia hanya seperti orang mampir minum di warung). Suatu kesadaran bahwa manusia itu hidup menuju kematian dan keberadaan di dunia hanya persinggahan sementara. Ini adalah bentuk antisipasi (Vorlaufen) atas kematian. Mereka menganggap kematian inheren dalam kehidupan, dan oleh karena itu tak guna ditakutkan. Mereka melihat kematian sebagai bagian eksistensi.

Bandingkan dengan fenomen yang mirip dengan itu, yaitu orang yang karena ajaran-ajaran tertentu tidak lagi takut mati, malah membuat dirinya cepat mati, seperti penganut sekte penunggu kiamat atau pelaku bom bunuh diri. Dalam perspektif Heideggerian, itu termasuk modus kehidupan yang tidak otentik (Das Man). Orang-orang ini, melihat kematian selalu di depan mata, kemudian mereka juga ikut membunuh bersama yang lain. Tidak lagi cemas dengan kematian, tetapi juga tidak pernah sampai taraf di mana harus menghargai hidup. Hanya nafsu survival saja. Membunuh atau dibunuh.

Heidegger menekankan bagaimana kita menghargai hidup yang historis, tidak destruktif bagi sesama manusia, lingkungan alam, lingkungan benda-benda sekitar. Semua adalah relasi kehidupan bersama sebagai meng-�Ada� di dunia, dan tugas Dasein-lah untuk merawat eksistensi dunianya. Bagi Dasein, kesadaran akan kematian pada akhirnya merupakan kesadaran akan makna kehidupan.

Bukan kematian yang menjadi esensi untuk kita cemaskan tetapi keotentikan kita dalam menghadapi kematian itu. Keotentikan yang bisa kita peroleh dari kesadaran akan keberadaan kita dan tidak membiarkan kita larut dalam arus keseharian. Larut dalam dogma-dogma serta janji yang kita sendiri tidak pernah tahu esensinya bagi penghargaan akan kehidupan, atau larut dalam usaha untuk bertahan hidup tanpa pernah memaknakan apa sebenarnya arti hidup bagi kita. Dengan menyadari keotentikan kita, maka sebenarnya kita tidak akan pernah takut mengalami kematian itu sendiri. Kematian kitapun bukan sekedar kematian tanpa makna bagi kehidupan yang kita tinggalkan.

If I die tomorrow
I'd be allright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

sumber: audifax (http://www.mail-archive.com/filsafat@yahoogroups.com/msg00496.html)

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 23.2.08

22 February 2008

Dream Theater - Spirits Carries On Lyric

Where did we come from..
Why are we here..
Where do we go when we die
What lies beyond
What lay before
Is anything certain in life?

They say, life is to short
They here and the now
And you only givin one shot
What could there be more
If I lived befored
Could this be all that we`ve got

If I die tomorrow I`ll be alright
Because I believe
That after were gone
The spirits carries on

I used to be frighten of dying
I used to think that was the end
But that was before I`m not scared anymore
I know that my soul will transcent

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never proved what i know to be truth
But I`d know that I still have to try


If I die tomorrow I`ll be alright
Because I believe
That after were gone
The spirits carries on


Move on be brave
Come with in my pray
Because I'm no longer here
Please never let you memory of me
Disappear..


Saving the life that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questions in mind, is help me to find
The meaning in my life again
Victorious real I finally feel
I peace with the girl in my dreams
And now that I'm here is perfectly clear
I found out what all of this means


If I die tomorrow I`ll be alright
Because I believe
That after were gone
The spirits carries on

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 22.2.08

14 February 2008

mengenang santo valentinus

Setahun yang lalu

Saat kita merayakan kematian

Santo valentinus di genggam kaisar claudius

Di hamparan ilalang kota membius


Setahun yang lalu

Saat kita tak tahu 14 Februari 1929

tujuh Mafia Bugs Moran tertembak di Chicago

engkau menawarkan segelas hangat

Tepat setahun lalu Di saat dewa fubruus tertidur kalut

Di masa kasih terajut di putih kabut

Bulan pun tertutup kutuk

Kala kantuk Engkau meminjam pundakku


setahun yang lalu

saat kisah kita tak kusut

dimana tak ada kalang kabut

engkau dekap dan menyebut

”selamat tinggal malaikat mautku”

Labels:

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 14.2.08

13 February 2008

angkatan 2004


gambar ini diambil beberapa waktu lalu, menjelang akhir tahun 2007. ya, foto angkatan 2004 kelautan. walaupun kurang satu personil yaitu fauzi.


sedikit catatan cacat duaribuempat


satu per satu
dari waktu ke waktu
akan pergi dan meninggalkan jemu
jemu pada lagu tentang satu

maret 2008
sepenggal dari satu harapan
menanggalkan catat
yang dikais dari 2004

maret, agustus, september atau desember 2010
mungkin hanya akan tersisa satu huruf
dari kalimat yang hurufnya mulai tanggal
satu per satu.

Labels:

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 13.2.08

in memoriam rezki fauziah (kelautan 2007)

bagimu yang tak berdetak

ada yang berubah
selain titik hujan merintik
seperti jentik-jentik
yang jatuh dari hitam awan membenam
di sela detik per detik menggelitik

air mata ini kian merintih
menagis peluh
memandangmu diselimuti tanah
seperti memeluk semu di dipan terbungkus kafan

aku merelakan, engkau mendapingi hujan
aku menghembuskan ditiap padam
tuhan mengizinkan
memberimu sedetak kehidupan


maafkan..

maaf...
aku tak mendengar kepergianmu
aku tak menghujani pusaramu dengan sendu
aku tak berada di usungan tubuh kakumu
aku tak berwudhu untuk kafanmu
aku tak menyaksikan perpisahanmu dengan subuh
aku tak menitipkan salam untuknya yang menjemputmu

mungkin aku terlambat berucap, kau sahabat.
yang tak dekat tapi dekap menghangat erat

Labels:

Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 13.2.08