04 November 2007
CATATAN HARIAN OMBAK 2007
Sudah 2 hari ini aku bangun sekitar pukul 09:00 pagi walaupun itu adalah hari liburku. Hampir selama 3 bulan ini aku memikirkan hal yang berlangsung dua hari itu. Ospek, hal yang sangat akrab di telinga mahasiswa dan orang tua mahasiswa baru. Ospek di kampus kami, fakultas ilmu dan teknologi kelautan diberi label Ombak (orientasi mahasiswa baru kelautan). Prosesi yang berlangsung 6 bulan lebih yang diikuti oleh mahasiswa baru dan meghatui mimpi adik adik baru 2007
Sabtu, 3 November 2007
Malam itu aku tidur di senat bersama beberapa orang saudara, baik yang seangkatan maupun adik angkatanku. Kami membicarakan banyak hal, tetapi lebh banyak berbicara mengenai ombak. Mulai dari kesiapan acara sampai hal teknis lainnya. Kemal, Arif, Gulam, Ardi sibuk mengutak-atik laptop mencari musik yang pas untuk pembukaan besok. Aku sendiri hanya bersandar di dinding biru mengamati mereka, sesekali aku tersenyum melihat tingkah gila saudara-saudaraku.
Malam semakin larut, angina malam berhembus menhujam kulit yang hanya dibalut kain tipis yang bertuliskan “unhas green community”. Aku masih duduk di koridor, bersama Ardi dan Ahmad, kami bercerita tentang apapun dan siapapun. Menjelang pukul 04:00 aku masih di koridor mencari lagu-lagu OST guitar hero, namun mata yang lelah tak mampu aku lawan lagi.
Pukul 09:00 aku terbangun karena kebisingan di halaman senat, bunyi musik yang menggetarkan jendela kaca, teriakan adik, dan gertakan senior menembus tipis gendang telinga yang masih bersandar di lantai. Aku bangun dan segera membasuh muka lusuhku. Di halaman aku melihat adik 2007 mengenakan kostum yang sangat aneh untuk ukuran trend life style masa kini. Di kepala para gadis, ada mahkota yang terbuat dari jalinan daun dan mengenakan rok dari tali rafia, para prianya mengenakan kacamata dengan rambut model spikey.
Pukul 10:00 ritual pembukaan dimulai, acaranya sangat kocak dan membuat perutku bergetar karena tingkah para adik-adik 2007. Ada tawa yang membuat aku lebih hidup di hari yang mataharinya mampu membuat kulit terbakar. Ada sedih yang terselip diatara tawa itu, ada haru yang membiru memandangi gedung berlantai 3 itu.
Pukul 13:00 aku kembali ke rumah dan langsung terkapar di jalinan bambu café ininnawa. Aku terbangun ketika aku mendengar langit mengemuruh seakan murka terhadap isi bumi. Rintik hujan perlahan menjadi lebih deras. Hari ini kakekku juga akan berangkat ke Jakarta bersama tante dan om-ku. Aku mengantar mereka sampai depan pintu taksi yang dari tadi menunggu. Aku menangis, sedih malihat kepergian kakekku yang sebahagian tubuhnya sudah mati rasa. Aku sedih melihat kursi roda milik kakek yang dimasukkan di bagasi
Pukul 16:00, permukaan air semakin meninggi hampir mancapai lututku. Banjir itu datang lagi, banjir yang diakibatkan kesalahan drainase proyek pelebaran jalan depan rumah.
Minggu 4 november 2007
Jarum jam di biblioholic mengarah ke angka 8, aku terbangun diantara rak buku yang menampung ribuan judul buku yang belum aku baca. Tergesa-gesa aku menuju kamar mandi dan membasuh muka serta badanku. Tiba di kampus, aku melihat adik-adik 2007 sedang berbaris sesuai instruksi panglima.
Pukul 14:00 aku menuju fakultas hukum Unhas. Hari ini jadwal kunjungan maba 2007 ke fakultas hokum. Tiba di sana aku disambut oleh teman-teman lama dari fakultas hukum. Selama ini hubungan emosianal memang terbangun antara kelautan dan hukum. Keakraban yang sangat jarang di temukan di kampus yang sangat kental dengan ego fakultas. Kami disambut dengan tarian selamat datang dari adik-adik hukum 2007. hujan yang semakin deras jatuh keatap tak membuat suara kami tak terdengar.
Pukul 19:00 aku dan teman-teman steering commite melakukan evaluasi. Aku menduduki pos kekeluargaan bersama saudaraku yang tercinta ardi. Banyak yang aku tanyakan ke mahasiswa baru, terutama mengenai loyalitas terhadap lembaga mahasiswa dan keluarga mahasiswa. Semua menjawab tak akan membiarkan lembaga dan keluarga hancur di tangan mereka. Ku hanya berkata ke mereka “aku akan sangat kecewa ketika lembaga ini hancur di tangan kalian”.
Pukul 21:00 penutupan berlangsung dalam nuansa yang sangat hikmat. Aku membacakan puisi yang aku tulis ketika mereka pertama kali bertemu denganku. Setelah itu aku menyalami mereka dan mengatakan “jangan membuat aku kecewa”. Prosesi OPK telah berlangsung. Hanya satu harapanku peda mereka, tetap loyal terhadap keluarga mahasiswa yang selama ini mulai tergerus gelombang zaman.
Labels: catatan pribadi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 4.11.07