14 February 2008
mengenang santo valentinus
Setahun yang lalu
Saat kita merayakan kematian
Santo valentinus di genggam kaisar claudius
Di hamparan ilalang kota membius
Setahun yang lalu
Saat kita tak tahu 14 Februari 1929
tujuh Mafia Bugs Moran tertembak di Chicago
engkau menawarkan segelas hangat
Tepat setahun lalu Di saat dewa fubruus tertidur kalut
Di masa kasih terajut di putih kabut
Bulan pun tertutup kutuk
Kala kantuk Engkau meminjam pundakku
setahun yang lalu
saat kisah kita tak kusut
dimana tak ada kalang kabut
engkau dekap dan menyebut
”selamat tinggal malaikat mautku”
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 14.2.08
13 February 2008
angkatan 2004


gambar ini diambil beberapa waktu lalu, menjelang akhir tahun 2007. ya, foto angkatan 2004 kelautan. walaupun kurang satu personil yaitu fauzi.
sedikit catatan cacat duaribuempat
satu per satu
dari waktu ke waktu
akan pergi dan meninggalkan jemu
jemu pada lagu tentang satu
maret 2008
sepenggal dari satu harapan
menanggalkan catat
yang dikais dari 2004
maret, agustus, september atau desember 2010
mungkin hanya akan tersisa satu huruf
dari kalimat yang hurufnya mulai tanggal
satu per satu.
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 13.2.08
in memoriam rezki fauziah (kelautan 2007)
bagimu yang tak berdetakada yang berubah
selain titik hujan merintik
seperti jentik-jentik
yang jatuh dari hitam awan membenam
di sela detik per detik menggelitik
air mata ini kian merintih
menagis peluh
memandangmu diselimuti tanah
seperti memeluk semu di dipan terbungkus kafan
aku merelakan, engkau mendapingi hujan
aku menghembuskan ditiap padam
tuhan mengizinkan
memberimu sedetak kehidupan
maafkan..maaf...
aku tak mendengar kepergianmu
aku tak menghujani pusaramu dengan sendu
aku tak berada di usungan tubuh kakumu
aku tak berwudhu untuk kafanmu
aku tak menyaksikan perpisahanmu dengan subuh
aku tak menitipkan salam untuknya yang menjemputmu
mungkin aku terlambat berucap, kau sahabat.
yang tak dekat tapi dekap menghangat erat
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 13.2.08
09 November 2007
ratu cahaya
suatu sore saat matahari mulai ditenggelamkan
aku bertanya pada seorang wanita
yang mungkin tak kukenal
"apakah engkau akan tersenyum pada senja matahari?"kataku
ditariknya nafas itu sedalam-dalamnya
dan berkata "biarkan aku malu manjawabnya"
"aku tak ingin senyum, aku ingin menangis
melihat cahaya merusak ronaku" jawab wanita itu sambil melirik ke arahku
perlahan baris hujan mulai menggerus
titik air menyentuh badan kami
saat masih menyelami hangat butir mentari
kemudian, dia beranjak dan berkata
aku tak ingin matahari karena aku adalah cahaya
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 9.11.07
08 November 2007
sajak-sajak Aan Mansyur
LUBANG UNTUKMU
Aku ingin jadi lubang di jalan raya
agar kau melangkah penuh waspada
dan lututmu tak berdarah karena jatuh
seperti masa kanakmu yang lincah dulu.
Aku ingin jadi lubang di ibu jari kaus kakimu
agar kau bisa tersenyum saat melepas sepatu
dan lelahmu hilang di palung lesung pipimu.
Aku ingin jadi lubang di dinding kamarmu
agar kau tak pernah luput mengenakan selimut
sebelum tidur dan kau aman memeluk mimpi.
Aku ingin jadi lubang tanam bagi mayatmu
agar kau dan aku bisa sempurna menyatu
MENYUSUR JALAN MENJELANG PAGI
Meski aku menyusuri jalan ini
demiku sempurna sunya-sunyi
tiba-tiba saja aku mau kau ada
berjalan di sisiku tanpa bicara.
Menikmati lampu-lampu jalan
satu per satu padam perlahan
bagai daun cahaya berjatuhan.
Melihat segenap bayang-bayang
berbaring menyatu dengan jalan
sebelum matahari dan pagi datang
lalu mereka sekali lagi dihidupkan.
DI DADANYA KAMAR TIDURKU
Perempuan itu,
di dadanya kamar tidurku.
Kasur seempuk peluk.
Selimut selembut kabut.
Di sana ia pejamkan keteganganku
dengan ninabobo semerdu doa ibu.
Juga ia tiupkan sebuah mimpi
tentang taman tanpa buah terlarang
dan ular mendesis
kecuali tangis
bayi yang renyah.
Sementara aku tertidur, ia pelan berjalan
ke padang tempat ksatria berperang.
Ia terkesima keperkasaan kuda mereka
dan tangannya cedera oleh pedang.
Ia menangis terisak, terguncang-guncang
membangunkan aku tiba-tiba.
Ia merajuk minta direngkuh
hingga benang-benang hujan reda
dan matanya tinggal genangan bening
dua telaga yang menghapus semua dahaga.
Lalu ia tuntun aku kembali ke tempat tidur.
Melelapkan aku dengan dongeng
tentang sepasang kekasih
mati dan menjelma bunga selasih.
Juga, sekali lagi, mimpi masih
tentang bayi yang menangis.
Namun saat aku lelap
dalam senyap ia melayap
ke hutan mencari pemburu.
Mengagumi busur dan anak panah
menggores keningnya dan berdarah.
Ia terisak, terguncang membangunkan aku.
Lalu ia minta cinta berdekap-dekap.
Lalu aku tertidur.
Lalu ia melanglang ke gunung, ke laut,
ke kota, ke mana-mana,
di luar tidurku.
Lalu ia menangis terguncang.
Lalu aku terbangun dari mimpi
yang tak pernah sampai.
Lalu aku lelap.
Lalu ia mengendap-endap.
Lalu ia menangis.
Lalu aku redakan tangis.
Lalu di mana bayi yang menangis?
Permainan cinta dan rasa sakit
berganti-ganti seperti siklus musim.
Hingga tak lagi mampu aku pahami
mengapa aku putuskan tetap terlelap
di dadanya dan terkesiap setiap ia meratap.
Perempuan itu,
sungguhkah aku mencintainya
atau mencintai rasa sakit mencintainya?
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 8.11.07
06 November 2007
Kepungan kota
Beranjak dari langkah kecil di antara keriuhan
Di sudut jalan, di kampus
Tak ingin dibalut baju bermerk
enggan mengunyah fast food
muak menertawai bioskop
muntah dengan gemerlap lampu mall
di persimpangan langkah
aku tak ingin kemana dan dimana
Aku ingin pulang
Aku rindu masakan mama
Aku rindu kasih sayang
Yang telah direnggut oleh malam
Siang, menjadi asing ditengah bising
Dan lolongan anjing
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 6.11.07
puisi malu
Dan matahari tetap berbinar
Mengisi kebimbangan hujan di musim kemarau
aku rindu suara halilintar
yang mengingatkanku pada ragu
masih teringat kemarin, detik yang mengisi hujan
dikala wajah bersembunyi di balik bantal
aku rindu pada ragu
yang menjambak kepalaku dari jari-jari malu
aku malu pada ragu
aku malu pada jari-jariku
aku malu pada malu
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 6.11.07
21 tahun yang lalu
21 tahun yang lalu, aku menghela nafas untuk pertama kali, menangisi kehidupan dan memberontak karena telah berhasil berpindah dunia dari perut ibuku yang senyap. 252 bulan yang lalu, saat tanganku masih terkepal, dan tubuhku masih dipenuhi bau amis darah suci rahim. 1.092 minggu yang lalu senyum ayahku, senyum ibu yang masih lemah menyambut kedatanganku sebagai anggota keluarga yang ke lima. 7665 hari yang silam, 4 orang saudaraku menunggu diluar pintu kedatangan tangis adiknya yang selama 9 bulan menyendiri di alam rahim. 183.960 jam yang lampau tante-omku, kakek-nenekku, dan mungkin para tetangga ayahku berharap cemas. Cemas akan nasibku, cemas akan ibuku dan cemas tentang kecemasan. Dan sudah 11.037.600 menit aku hadir di dunia menemani alam ini. Hampir 662.256.000 detik yang kukorbankan untuk sesuatu tanpa guna.
26 september 1986
Terlahir dalam onggokan daging
Diiringi sendu sang ruh
Bermandikan darah
Dan menikmati selaput ari-ari terakhir.
Diantara seraut wajah letih, cemas, waswas
Aku merobek rahim ibuku dengan lemah
Aku menendang-nendang di antara ranjang
Aku menangis, menangis dan menangis
Dekapan tangan ayah membelai rambut ibu
Doa sang kakak, agar adiknya berhenti menangis
Dan aku tetap saja menangis
Entah kenapa, aku tak mengerti
Dan tak mau peduli
Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 6.11.07
04 November 2007
SETITIK HARAP
selamat datang harap
diruang berantakan dan pengap
dilapisi dinding niru yang mulai lusuh
oleh coretan kecil karena guratan pena
karena coretan generasi yang tak lagi bungkam
selamat datang butiran air
yang kami nanti dengan tak sabar
harapan tanah kering ini
akan kehadiran bulir-bulir air
yang jatuh menghantam nurani
selamat datang wajah kaku
di antara tawa sejarah mendampingi kini di siangku
tawa sinis sejarah tersungging
di sela harapan menikamati ruang rusuh
sesekali harapan tertunduk
meratapi wajah angkuh sejarah
keangkuhan sejarah-sejarah
kekalutan harapan
dan kebimbangan kini
menghiasi ruang beratap tanah
sejarah, kini, dan harap
teraduk dalam nuansa generasi
kebimbangan kini menjadi jembatan sejarah-harapan
kini menjadi sayap sejarah mengarungi harapan
dan kini menjadi mata harapan melirik sejarah
sekali lagi selamat datang harap..
:: KAISAR OMBAK 2007 puisi ini aku persembahkan buat adik-adik mahasiswa baru kelautan 2007Labels: puisi
Posted by muhammad mubarak aziz malinggi' at 4.11.07